Postingan Terbaru

Senin, 03 Oktober 2011

SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI TEKNIK BERCERITA DI KELAS V





BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Pentingnya pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar sudah tidak diragukan lagi, megingat bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional Negara Republik Indonesia, juga sebagai bahasa pemersatu di Indonesia. Selain itu, bahasa Indonesia sangat mudah dipelajari dari mulai anak usia dini sampai orang dewasa.
Kesadaran akan pentingnya pelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah menuntut guru untuk lebih memperkenalkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu di negeri sendiri dan lebih mempopulerkan bahasa Indonesia dengan cara menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai bahasa sehari-hari.
Untuk itu, pemerintah melalui Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP, 2006) memberikan standar kemampuan yang harus dicapai oleh siswa dari mulai tingkat sekolah dasar sampai tingkat menengah ke atas, kemudian dapat dikembangkan oleh guru untuk lebih meningkatkan keterampilan berbahasa siswa.
Keterampilan berbahasa meliputi keterampilan mendengarkan (menyimak), membaca, berbicara, dan menulis. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa untuk pembelajaran bahasa Indonesia lebih dititikberatkan pada performansi berbahasa daripada sekedar memiliki pengetahuan tentang kebahasaan, yakni berupa unjuk kerja mempergunakan bahasa dalam konteks tertentu sesuai dengan fungsi komunikatif bahasa.
Tarigan (1983:1) mengungkapkan keterampilan berbahasa dalam bahasa Indonesia meliputi empat aspek, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek tersebut disebut juga sebagai "catur tunggal" keterampilan berbahasa, karena keempat aspek tersebut merupakan satu kesatuan, saling berhubungan, dan tidak bisa dilepaskan, namun berbeda antara satu dengan yang lainnya dan juga berbeda dari segi prosesnya.
Pelajaran bahasa Indonesia dewasa ini ditujukan pada keterampilan siswa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan konteksnya atau bersifat pragmatis. Dengan kata lain, secara pragmatis-komunikatif bahasa Indonesia lebih merupakan suatu bentuk performansi daripada sebagai suatu sistem ilmu. Pandangan ini membawa konsekuensi bahwa pembelajaran bahasa Indonesia harus lebih menekankan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi daripada pembelajaran tentang ilmu atau pengetahuan kebahasaan.
Namun kenyataan di lapangan, kemampuan berbahasa Indonesia terutama keterampilan berbicara siswa sekolah dasar, tepatnya siswa kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y masih rendah. Hal ini dilihat dari masih rendahnya nilai bahasa Indonesia siswa (sekitar 71 % siswa yang memperoleh nilai bahasa Indonesia di bawah KKM), siswa terbiasa menggunakan bahasa daerah (bahasa Sunda), malu untuk berbicara di depan kelas, dan materi pembicaraan yang belum dikuasai siswa.
Tampak pada saat pembelajaran berlangsung, siswa hanya duduk dan mendengarkan penjelasan dari guru tidak berani mengajukan pertanyaan apalagi mengeluarkan pendapat. Ketika guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya atau berkomentar siswa hanya diam, tidak jelas sudah mengerti atau belum. Tidak hanya itu, ketika siswa diminta untuk menceritakan pengalaman pribadi di depan kelas, masih tampak kesulitan, bahkan ada siswa yang sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun saat diminta untuk bercerita di depan kelas.
Hal ini menjadi suatu acuan untuk memperbaiki pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar dalam hal ini kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y agar anak memiliki perbendaharaan kata yang banyak sehingga siswa memiliki keberanian untuk mengungkapkan ide, pikiran, pendapat serta mudah dalam mengkomunikasikan perasaan maupun pengalaman pribadi. Selain itu, Siswa diharapkan terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Banyak upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki pembelajaran bahasa Indonesia terutama dalam keterampilan berbicara. Salah satunya melalui bercerita. Bercerita dianggap cocok diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa dengan alasan :
1. Bercerita memberikan pengalaman psikologis dan linguistik pada siswa sesuai minat, tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa sekaligus menyenangkan bagi siswa,
2. Bercerita dapat mengembangkan potensi kemampuan berbahasa siswa melalui pendengaran kemudian menuturkannya kembali dengan tujuan melatih ketrampilan siswa dalam bercakap-cakap untuk menyampaikan ide dalam bentuk lisan,
3. Bercerita merupakan kegiatan yang menyenangkan dan tidak membosankan,
4. Bercerita memberikan sejumlah pengetahuan dan pengalaman,
5. Siswa aktif.
Seperti yang diungkapkan Susilawani, D. (2009) manfaat bercerita meliputi : menjadi fondasi dasar kemampuan berbahasa, meningkatkan kemampuan komunikasi verbal, meningkat kemampuan mendengar, mengasah logika berpikir dan rasa ingin tahu, menanamkan minat baca dan menjadi pintu gerbang menuju ilmu pengetahuan, menambah wawasan, mengembangkan imajinasi dan jiwa petualang, mempererat ikatan batin orang tua dan anak, meningkatkan kecerdasan emosional, dan alat untuk menanamkan nilai moral, etika, dan membangun kepribadian.
Mengingat begitu pentingnya keterampilan berbicara sebagai salah satu kemampuan dalam gagasan atau pesan secara lisan serta masih rendahnya kemampuan berbahasa siswa kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y terutama dalam aspek berbicara, maka penulis memandang perlu untuk melakukan penelitian dengan mengambil judul "Upaya meningkatkan keterampilan berbicara melalui teknik bercerita di SDN X Kabupaten Y" (Penelitian Tindakan Kelas terhadap siswa kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka secara umum penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut: "Bagaimanakah upaya meningkatkan keterampilan berbicara melalui teknik bercerita di SDN X Kabupaten Y? (Penelitian Tindakan Kelas terhadap siswa kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y)
Untuk memperjelas masalah, maka permasalahan di atas dijabarkan ke dalam beberapa pertanyaan berikut:
1. Bagaimanakah mempersiapkan dan melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan teknik bercerita di kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y?
2. Apakah teknik bercerita dapat meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y?
3. Hambatan atau kesulitan apakah yang dihadapi guru dan siswa dalam melaksanakan teknik bercerita dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y?

C. Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran secara umum tentang teknik bercerita dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y.
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui gambaran secara umum mengenai persiapan dan pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan teknik bercerita di kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y
2. Mengetahui hasil yang diperoleh dari teknik bercerita dalam meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y
3. Mengetahui hambatan atau kesulitan apakah yang dihadapi guru dan siswa dalam melaksanakan teknik bercerita dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y.

D. Manfat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
1. Guru
Memberikan kajian dan informasi tentang teknik bercerita untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa sehingga pembelajaran bahasa Indonesia dapat lebih menyenangkan dan bermakna serta kualitas pembelajaran bahasa Indonesia lebih meningkat.
2. Siswa
Memberikan pengetahuan dan pengalaman kepada siswa sehingga siswa memiliki wawasan, dapat tampil lebih percaya diri, terutama keterampilan berbicara siswa lebih meningkat.
3. Peneliti selanjutnya
Dapat dijadikan data awal untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang relevan terhadap variabel-variabel yang belum tersentuh dalam penelitian ini

E. Penjelasan Istilah
Untuk menghindari kekeliruan dalam memahami konsep-konsep utama yang digunakan dalam penelitian ini, berikut dijelaskan konsep-konsep utama tersebut.
1. Keterampilan berbicara
Keterampilan berbicara dalam penelitian ini diarahkan pada kemampuan Berbicara, meliputi pelafalan dan intonasi, pilihan kata/kosa kata, dan struktur kata. Isi cerita, meliputi hubungan isi cerita dengan topik, struktur isi cerita dan kualitas isi cerita. Penampilan, meliputi gerak-gerik & mimik, dan volume suara.
2. Teknik bercerita
Teknik bercerita dalam penelitian ini diarahkan pada kemampuan anak menceritakan pengalaman/kejadian dengan urut, menceritakan kembali isi buku cerita secara urut, dan bercerita tentang gambar dengan urut dan bahasa yang jelas.

F. Hipotesis Tindakan
Melalui teknik bercerita diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V (lima) SDN X Kabupaten Y.

G. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Reaserch dengan pendekatan kualitatif. Sedangkan teknik pengurupulan data yang penulis gunakan adalah tes lisan dan observasi.

diterbitkan oleh Al-hAq's cOmmuNitY

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Skull Belt Buckles